This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 26 Desember 2011

Manajemen Sumber Daya Manusia Yang Berorientasi Pada Pelayanan Prima



Pengertian menurut James A.F.Stoner,
Manajemen adalah Suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Manajemen  Sumber Daya Manusia  adalah  Prosedur berkelanjutan memasok orang yang tepat untuk posisi atau  jabatan dalam otganisasi.

POAC : Planning, Organizing, Actuating, Controlling         
Planning adalah  Proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran yang diinginkan.
Organizing adalah Dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur
untuk mencapai sasaran atau sejumlah sasaran.
Actuating adalah Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja.
Controlling atau  pengawasan disebut pengendalian  adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan  maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.

Sumber Daya Manusia atau disingkat SDM mempunyai potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformative  yang  mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Service Excelent atau Pelayanan Prima
Pelayanan yang terbaik atau sesuai standar (ISO) berorientasi pada kepuasan pelanggan atau yang dilayani.

Konsep pelayanan prima A6 : Ability (kemampuan), Attitude (sikap), Appearance (penampilan), Attention (perhatian), Action (tindakan), Accountability (tanggung jawab) 

Ability (kemampuan) adalah pengetahuan dan ketrampilan tertentu yang mutlak diperlukan untuk menunjang program layanan prima, yang meliputi kemampuan dalam bidang kerja yang ditekuni, melaksanakan komunikasi yang efektif, mengembangkan motivasi, dan menggunakan public relations sebagai instrument dalam membina hubungan ke dalam dan keluar organisasi. 
Attitude (sikap) adalah perilaku yang harus ditonjolkan menghadapi pelanggan. 
Appearance (penampilan) adalah penampilan seseorang, yang baik bersifat fisik saja maupun fisik dan non fisik, yang mampu merefleksikan kepercayaan diri dan kredibilitas dari pihak lain. 
Attention (perhatian) adalah kepedulian penuh terhadap pelanggan, baik yang berkaitan dengan perhatian akan kebutuhan dan keinginan pelanggan maupun pemahaman saran dan kritik. 
Action (tindakan) adalah berbagai kegiatan nyata yang harus dilakukan dalam memberikan layanan pada pelanggan. 
Accountability (tanggung jawab) adalah suatu sikap keberpihakankepada pelanggan sebagai wujud kepedulian untuk mengghindarkan atau meminimalkan kerugian atau ketidakpuasan pada pelanggan.
All-win Costomer Service, Anda, Pelanggan Anda, dan Organisasi Anda.

Harapan Pelanggan
Kualitas pelayanan internal
Kualitas pelayanan internal berkaitan dengan interaksi jajaran pegawai organisasi atau perusahaan dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan internal yaitu : 
1. Pola manajemen umum organisasi atau perusahaan.
2. Penyediaan fasilitas pendukung
3. Pengembangan Sumber Daya Manusia
4. Iklim kerja dan keselarasan hubungan kerja
5. Pola insentif

Kualitas pelayanan eksternal
Mengenai kualitas layanan kepada pelanggan eksternal, boleh berpendapat bahwa kualitas layanan ditentukan oleh beberapa factor yaitu :
1.      Yang berkaitan dengan penyediaan jasa :
a)      Pola layanan dan tata cara penyediaan atau pembentukan jasa tertentu
b)      Pola layanan distribusi jasa
c)      Pola layanan penjualan jasa
d)     Pola layanan dalam penyampaian jasa
2.      Yang berkaitan dengan penyediaan barang
a)      Pola layanan dan perbuatan barang berkualitas atau penyediaan barang berkualitas
b)      Pola layanan pendistribusian barang
c)      Pola layanan penjualan barang
d)     Pola layanan purna jual
Keempat jenis layanan tersebut dapat disebutkan sebagai kinerja pelayanan.
Kinerja pelayanan berkaitan dengan  harapan dan kepuasan, maka gambaranya adalah sebagai berikut :

Kinerja < Harapan
Bila kinerja layanan menunjukan keadaan dibawah harapan pelanggan, maka pelayanan kepada pelanggan dapat dianggap tidak memuaskan.

Kinerja = Harapan
Bila kinerja layanan menunjukan sama atau sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, maka pelayanan dianggap memuaskan tetapi tingkat kepuasan adalah minimal karena keadaan seperti ini dapat dianggap belum ada keistimewaannya, jadi pelayanan di anggap biasa atau wajar-wajar saja.

Kinerja > Harapan
Bila kinerja layanan menunjukan lebih dari yang diharapkan pelanggan, maka pelayanan dianggap istimewa atau memuaskan karena pelayanan yang diberikan ada pada tahap optimal.

Harapan pelanggan internal : Kebersamaan dan kerjasama, struktur, system, prosedur kerja yang efisien, kualitas dan fasilitas kerja, hubungan kerja, imbalan

Harapan pelanggan eksternal : Easy to get atau mudah memperokeh barang dan jasa, quality dan reability,  syarat kualitas barang dan jasa, competitive price, best services, after sales service, satisfaction standart.
Berhubungan secara jujur dan adil (fairness dan equal) merupakan dasar kelanggengan hubungan.

Menurut Prof.Mansyur Ramly,
Ada 4  platform untuk menghadirkan pelayan yang efektif dan inovatif, yaitu :
1. Kepemimpinan : Pemimpin senior harus mendorong agenda mengenai apa yang penting dalam melayani pelanggan.
 2.  Budaya : Organisasi perlu bekerja keras untuk mewujudkan budaya yang menerima kesalahan dan mengembangkan pembelajaran.
 3.  Inovasi yang berpusat pada pelanggan (customer oriented innovation) dan proses pengembangan : Perusahaan harus menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai inti dari pemikiran rancangan dan proses. 
4. Infastruktur : Perusahaan perlu membangun struktur pengelolaan bagi inovasi yang mencakup jumlah anggaran yang substansial, pengetahuan, dan ketrampilan internal, sertariset, rancangan dan prototypimg.

Menurut Steven R. Covey,
Kepemimpinan yang berprinsip, yaitu :
1.      Mereka terus belajar
2.      Mereka berorientasi pada pelanggan
3.      Mereka memancarkan energy positif
4.      Mereka mempercayai orang lain
5.      Mereka hidup seimbang
6.      Mereka melihat hidup sebagai sesuatu petualangan
7.      Mereka energistik luar biasa produktif
8.      Mereka berlatih untuk memperbaharui diri

Ada Tujuh Kemampuan Unik Manusia,
Kemampuan Primer
1.      Kesadaran diri atau pengetahuan akan diri (pro aktif)
2.      Imajinasi dan suara hati (mengacu pada tujuan)
3.      Kehendak bebas atau niat (dahulukan yang utama merupakan kemampuan niat)
Kemampuan Sekunder
4.      Mentalitas berkelimpahan
5.      Keberanian dan pertimbangan
6.      Kreatifitas
7.      Pembaharuaan diri (asahlah gergaji)

Standar Pelayanan Public (prima)
UU No.25/2009 Tentang Pelayanan Public

1.      Dasar Hukum
2.      Persyaratan
3.      Sistem, Mekanisme, Porsedur
4.      Jangka waktu penyelesaian
5.      Biaya/tariff
6.      Produk pelayanan
7.      Sarana prasarana, fasilitas
8.      Kompetensi pelaksana
9.      Pengawasan internal
10.  Penanganan aduhan, saran, masukan
11.  Jumlah pelaksana
12.  Jaminan layanan sesuai standar
13.  Jaminan keamanan keselamatan
14.   Evaluasi kinerja pelaksana


Kelola Manajemen Sumber Daya Manusia 
1.Syirik
2.Iri
3.Dengki
4.Arogani

Makalah Ekonomi Pembangunan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekonomi pembangunan merupakan suatu cabang ilmu ekonomi yang menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang dan mendapatkan cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut agar negara-negara berkembang dapat membangun ekonominya dengan lebih cepat lagi. Salah satu objek kajian dari studi ekonomi pembangunan adalah modal atau kapital yang merupakan bentuk-bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak langsung dalam produksi untuk menambah output (Siagian, 1989). Sering juga dikatakan, modal atau kapital adalah barang-barang yang digunakan untuk produksi lebih lanjut.
Kapital atau modal berperan sebagai alat pendorong pembangunan ekonomi yang meliputi investasi dalam pengetahuan teknik perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan, dan keahlian. Dengan demikian modal atau kapital dalam rangka pembangunan, tidak hanya berwujud pabrik-pabrik dan perlengkapannya, namun sebenarnya meliputi human capital.
Biasanya ahli-ahli ekonomi mengatakan, adanya kemiskinan dan pembangunan ekonomi yang rendah di negara-negara sedang berkembang disebabkan oleh kekurangan modal atau kapital sebab mereka memandang modal mempunyai kedudukan terpenting dalam teori pembangunan ekonomi. Sebagian ahli ekonomi menganggap bahwa modal tidak saja mempunyai kedudukan terpenting bagi proses pembangunan, melainkan strategis pula, dalam arti proses pembentukan modal adalah saling pengaruh-mempengaruhi dan kumulatif.
Masalah pembentukan modal dapat ditinjau dari sudut permintaan maupun dari sudut penawaran akan modal. Dari sudut permintaan pembentukan modal bertalian dengan ada tidaknya daya tarik bagi usahawan atau wiraswasta untuk mempergunakan barang-barang modal dalam proses produksi. Dari sudut penawaran, pembentukan modal berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk menabung, tabungan kemudian dipakai untuk investasi dan pembentukan modal. Dalam hubungan dengan pembentukan modal ini, negara-negara sedang berkembang seolah-olah berada dalam lingkaran yang tak berujung pangkal, baik dilihat dari segi permintaan maupun penawaran akan modal (Siagian, 1989).
Pada saat ini, negara-negara sedang berkembang mengalami kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya persediaan modal. Dari uraian tersebut penulis ingin mengetahui penyebab rendahnya permintaan dan penawaran modal dan cara mengatasinya sebagai solusi pembangunan di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Apa yang menyebabkan rendahnya permintaan modal di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya?
  2. Apa yang menyebabkan rendahnya penawaran modal di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya?

1.3 Tujuan Penulisan
  1. Mengetahui penyebab rendahnya permintaan modal di Indonesia dan cara  mengatasinya.
  2. Mengetahui penyebab rendahnya penawaran modal di Indonesia dan cara mengatasinya.

1.4 Manfaat Penulisan
  1. Memperoleh gambaran dan menambah khasanah pengetahuan tentang rendahnya permintaan dan penawaran modal di Indonesia serta cara mengatasinya.
  2. Hasil penulisan ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademis untuk melakukan penulisan selanjutnya.
  3. Dapat membantu pemerintah serta para ekonom untuk memperbaiki pembangunan ekonomi di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pembangunan ekonomi yang rendah di negara-negara sedang berkembang disebabkan oleh kekurangan modal atau kapital, sebab modal mempunyai kedudukan terpenting dalam teori pembangunan ekonomi (Kindleberger (1965) dalam Siagian (1989)). Dari pengertiannya, modal adalah suatu bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak langsung dalam produksi untuk menambah output (Siagian, 1989).
Menurut Bourdieu (1986) modal tidak hanya sekedar alat-alat produksi, tetapi juga memiliki pengertian yang lebih  luas dan dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
(a) modal ekonomi (economic capital)
(b) modal kultural (cultural capital)
(c) modal sosial (social capital).
Modal ekonomi, dikaitkan dengan kepemilikan alat-alat produksi. Modal kultural terinstitusionalisasi dalam bentuk kualifikasi pendidikan. Sedangkan menurut Coleman (1990) modal sosial (social capital), yaitu kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama demi mencapai tujuan bersama dalam suatu kelompok dan organisasi.
Menurut Siagian (1989) pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang  dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pembentukan modal yang ditinjau dari sudut penawaran maupun dari sudut pernintaan akan modal. Dalam hubungan dengan pembentukan modal ini, negara-negara sedang berkembang seolah-olah berada dalam lingkaran yang tak berujung pangkal. Dari sudut penawaran modal dapat digambarkan demikian, kekurangan modal disebabkan karena kemampuan yang rendah dalam menabung, sedangkan tabungan yang rendah diakibatkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan pertanda produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas yang rendah sebagian besar karena kekurangan modal. Kekurangan modal ini merupakan suatu akibat dari tabungan yang rendah, dengan demikian lingkaran setan itu menjadi lengkap. Lingkaran setan ini juga berlaku di sudut permintaan akan modal. Permintaan akan modal investasi rendah disebabkan oleh daya beli yang rendah karena pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan cerminan dari produktivitas yang rendah, dan produktivitas yang rendah disebabkan oleh modal yang dipergunakan dalam produksi rendah. Rendahnya modal yang dipakai disebabkan oleh daya beli masyarakat yang rendah, demikian seterusnya.
Berdasarkan analisa Schumpeter dalam Siagian (1989) yang dapat memecahkan lingkaran setan adalah golongan entrepreneur atau wiraswasta terutama innovating entrepreneur. Innovating entrepreneur adalah entrepreneur yang bersifat agresif dalam percobaan-percobaannya, dan selalu tertarik pada kemungkinan-kemungkinan untuk dapat dipraktikkan (Irawan dan Suparmako dalam Siagian (1989)).

BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Jenis dan Sumber Data
Jenia dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema.
3.2 Analisis Data
Data diperoleh dari hasil studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema dan kutipan dari berbagai dokumen yang kami analisis sejak pertama kali penyusunan makalah ini sampai makalah ini selesai. Kemudian setelah data terkumpul dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline makalah akhir yang dapat memudahkan penulis untuk menyelesaikan makalah ekonomi pembangunan secara terstruktur.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Rendahnya permintaan modal di Indonesia dan cara mengatasinya
Rendahnya permintaan modal dalam negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, disebabkan oleh hasrat golongan wiraswasta melakukan investasi rendah, sebab daya beli masyarakat atau keadaan pasar dalam negeri yang terbatas merupakan hambatan untuk permintaan akan modal.
Seperti diketahui faktor-faktor yang menentukan fluktuasi investasi adalah :
a) efisiensi marginal dari investasi,
b) ongkos barang-barang modal,
c) tingkat bunga.
Efisiensi marginal suatu investasi adalah jumlah pendapatan suatu barang modal yang akan diperoleh di masa depan selama usia barang modal tersebut atau sebagai rangkaian balas jasa sesuatu barang modal (Siagian, 1989). Balas jasa ini diperoleh dari hasil penjualan produksi setelah dikurangi dengan biaya atau harga pokok. Balas jasa ini haruslah lebih besar dari harga pembelian modal tersebut, jika tidak, tidak ada gunanya atau tidak menarik untuk menjalankan investasi. Biasanya balas jasa tiap tahun dinyatakan secara persentase. Persentase ini harus lebih besar dari tingkat bunga umum yang berlaku sebab kalau tidak, lebih baik dan lebih menguntungkan membungakan uang tersebut daripada membeli barang modal.
Umumnya tingkat bunga ini merupakan faktor pembanding mengenai balas jasa sesuatu investasi modal, dalam arti makin rendah tingkat bunga dibanding dengan tingkat keuntungan maka semakin menarik menjalankan investasi dan demikian sebaliknya, semakin tinggi tingkat bunga dibanding dengan tingkat keuntungan maka semakin kurang menarik mengadakan investasi.
Pada umumnya tingkat bunga di Indonesia tinggi sekali. Hal ini diperkuat dengan pendapat Alvin Hansen dalam Siagian (1989) yang mengatakan bahwa banyak investasi di negara-negara sedang berkembang tidak terlaksana, terutama karena tingkat bunga yang tinggi. Walaupun pendapatan ini cukup tajam, namun tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Faktanya, penurunan tingkat bunga merupakan segi penting untuk investasi, tetapi unsur lain yang tidak kalah penting adalah kekurangan permintaan efektif dalam masyarakat sehingga balas jasa investasi masa depan sangat rendah. Oleh sebab itu, dari sudut permintaan akan modal di Indonesia, kekurangan tenaga beli merupakan penghambat yang lebih besar daripada tingkat bunga yang tinggi.
Pada awal pembahasan telah dipaparkan bahwa hasrat usahawan mengadakan investasi tertekan oleh faktor kekurangan tenaga beli, terutama jika ditinjau dari sudut investasi dalam satu cabang produksi tertentu. Hambatan ini dapat dikurangi jika investasi dijalankan secara bersamaan atau serentak di lapangan yang meliputi berbagai proyek. Penyebab hal tersebut adalah hasil investasi yang dapat memperluas pasar penjualan, dalam arti pekerja pada suatu proyek akan menjadi pembeli dari hasil proyek lain.
Pembangunan jenis ini disebut pembangunan yang seimbang. Pembangunan yang seimbang mempunyai arti yang bermacam-macam, seperti :
a) keseimbangan antara pertambahan produksi bahan makanan dan pertambahan penduduk,
b) keseimbangan antara produksi agraria dan industri,
c) keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani,
d) keseimbangan pembangunan antar daerah.
Melalui pembangunan yang seimbang terutama antara produksi bahan makanan dan produksi industri, akan menciptakan kesempatan kerja yang luas untuk golongan penganggur dan setengah penganggur terutama di sektor pertanian.
Dengan cara ini produktivitas pertanian dapat dinaikkan, yang berarti juga dapat menaikkan tenaga beli dalam arti nyata. Kenaikan tenaga beli kaum tani ini, sebagian akan diberdayakan untuk membeli hasil industri seperti pakaian, alat-alat pertanian, dan sebagainya. Hal ini terjadi sebab dari sudut industri, golongan petani merupakan pasar hasil produksinya yang utama. Naiknya pasar bagi produksi industri akan mendorong tambahan investasi di sektor ini. Sebaliknya golongan industri merupakan pasar bagi sektor pertanian, dengan bertambah luasnya sektor industry akan mendorong kenaikan produksi di bidang pertanian, baik melalui usaha perluasan area maupun melalui intensifikasi. Kedua cara ini memerlukan peralatan dan hasil industri, sehingga mendorong tambahan investasi di bidang ini. Demikianlah pembangunan proyek-proyek ini saling melengkapi dan saling menunjang perkembangan masing-masing ke taraf yang lebih tinggi.

4.2 Rendahnya penawaran modal di Indonesia dan cara mengatasinya
Lambatnya proses pembangunan di Indonesia disebabkan oleh sedikitnya modal yang tersedia. Kurangnya modal disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah, kemampuan menabung yang rendah disebabkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah merupakan akibat dari produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas yang rendah merupakan akibat dari kekurangan modal dan hal ini disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah dan demikian seterusnya, sehingga lingkaran setan yang tidak berujung pangkal yang dialami menjadi lengkap (Siagian, 1989).
Tabungan yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan dan kesediaan menahan nafsu konsumsi selama beberapa waktu, agar dikemudian hari terbuka kemungkinan untuk konsumsi yang lebih baik. Tabungan di dalam pembangunan ekonomi memiliki peranan penting dan strategis karena dapat menaikkan produktivitas dan proses pembentukan kemampuan.
Kenyataan di Indonesia, jumlah tabungan yang ada dan diinvestasikan sangat rendah, seringkali jumlah tabungan hanya cukup untuk mengimbangi pertambahan penduduk yang sedang berjalan. Demi mempercepat pembangunan penting sekali untuk memperbesar tabungan, baik atas kerelaan masyarakat maupun melalui kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal agar dapat mencapai tujuannya, harus disertai dengan kebijakan dividen dalam arti perlunya pengawasan negara atas pemakaian devisa yang dihasilkan dari perdagangan luar negeri.
Berhubung pembangunan ekonomi secara sadar, dimana investasi-investasi yang dijalankan diarahkan untuk menambah produksi dan produktivitas dalam masyarakat, di pihak lain devisa adalah bagian yang penting dari unsur-unsur produksi suatu negara. Oleh karena itu, pengawasan penggunaan devisa merupakan salah satu kebijakan Negara yang sangat penting. Pengawasan devisa ditujukan agar pemakaian devisa dilakukan dengan baik, dengan demikian dapat dilaksanakanlah suatu alokasi unsur produksi yang lebih baik. Kebijakan fiskal dan pengawasan devisa harus disertai dengan kebijakan yang mengatur unsur-unsur produksi yang ada dalam masyarakat digunakan secara efektif. Agar tujuan dapat tercapai perlu disusun suatu rencana pembangunan yang rapi dan teratur. Rencana tersebut harus memperlihatkan tujuan-tujuan pembangunan, lapangan-lapangan investasi, kebijaksanaan negara di bidang keuangan dan besarnya jumlah investasi. Kemudian diperlukan juga rencana pembangunan yang bertul-betul bersifat rasional-nasional, dalam arti memperhatikan kaitan antar masing-masing sektor, memperhatikan kemampuan pembiayaan sehingga dapat ditentukan skala prioritas, dengan demikian pemborosan dapat dihindari.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kapital atau modal sebagai alat pendorong pembangunan ekonomi meliputi investasi dalam pengetahuan teknik perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan, dan keahlian. Dengan demikian modal atau kapital dalam rangka pembangunan, tidak hanya berwujud pabrik-pabrik dan perlengkapannya, namun sebenarnya meliputi human capital. Maka dapat disimpulkan bahwa akumulasi modal sebagian besar ditentukan oleh permintaan modal, disamping juga oleh penawaran modal. Penawaran modal cenderung mengikuti permintaan untuk investasi. Pembentukan modal lebih ditarik oleh adanya permintaan dari para usahawan yang penuh semangat dan kemauan untuk maju daripada dorongan penawaran modal yang berasal dari pemilik uang yang pasif. Disinilah terlihat pentingnya peranan usahawan dalam rangka pembangunan ekonomi suatu negara, dan terlihat perlunya mendorong timbulnya golongan ini.

5.2 Saran
Investasi ditujukan untuk memajukan pembangunan ekonomi di Indonesia selanjutnya, maka pertimbangan kriteria investasi seharusnya diarahkan kepada sektor-sektornya yang “growing points” dalam perekonomian, yaitu pada bidang atau lapangan yang dapat memberi perkembangan yang lebih cepat, membutuhkan investasi tambahan yang cukup besar tetapi mempunyai permintaan yang sudah tersedia. Hal tersebut akan memberikan external economies yang sangat penting bagi industri-industri lainnya yang ada dan akan menimbulkan permintaan produk suplementer dan jasa. Dengan kata lain, investasi itu harus diarahkan sedemikian rupa sehingga memajukan integrasi horizontal dan vertikal dalam proses produksi.


DAFTAR PUSTAKA
Bourdieu, P. 1986. The Form of Capital. In J. Richardson (Ed). Handbook of Theory and Research for Sociology of Education. New York: Greenwood Press.
Coleman, J. 1990. Foundations of Social Theory. Cambridge Mass: Harvard University Press.
Kamaluddin, Rustian. 1987. Beberapa Aspek Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Siagian, H. 1989. Pembangunan Ekonomi dalam Cita-Cita dan Realita. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Minggu, 27 November 2011

Pengaturan dalam Masyarakat

A.     Pengertian Kemakmuran Dalam Masyarakat
1. Kemakmuran ialah : Suatu suasana umum dimana setiap orang banyak bekerja sungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya terjamin akan rumah, sandang dan papannya yang layak buat dia sendiri dan keluarganya, istilah layak disini menunjukkan perbedaan-perbedaan taraf yang di nilai pantas buat orang-orang dari berbagai golongan ataupun lapisan-lapisan sosial yang berbeda satu sama lain.
2. Adanya lapisan-lapisan sosial atau kedudukan-kedudukan yang berbeda-beda tingkatannya dalam masyarakat, maka diakui pula adanya anggapan umum bahwa ukuan kemakmuran bagi tiap-tiap golongan atau lapisan di dalam masyarakat adalah berbeda-beda.
Sebenarnya pandangan yang dianut orang-orang terhadap pengertian kemakmuran menurut buruh, guru, ulama, pegawai, pengusaha dan sebagainya, jadi kedudukan-kedudukan tidak hanya mempunyai perbedaan dalam-dala. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban atau peranan, tetapi juga dapat berbeda presepsinya, bagi orang-orang yang biasa berfikir rasional kemakmuran masyarakat diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki atau yang dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya, karena itu setiap orang mengejar berbagai fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang diprlukan untuk menunjang kehidupan dan kelangsungan hidup keluarganya. Kebutuhan hidup itu bermacam-macam, akan tetapi apabila digolongkan ada dua macam yaitu :
Kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, kebutuhan primer berupa barang-barang pangan, sandang dan papan yang pertama dituntut untuk menunjang hidup manusia. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat ditangguhkan penggunaannya disebut kebutuhan sekunder.
Pandangan yang berbeda dari pandangan diatas adalah yang dianut masyarakat umum, terutama hidup di daerah pedesaan.
B. Kemakmuran Dan Kebahagiaan
Bagi masyarakat pedesaan yang tidak membedakan antara kemakmuran dan kebahagiaan, maka seseoarng merasa makmur apabila ada keserasian antara
 apabila keadaan sosial atau material itu melebihi keinginannya maka keadaan itu dapat mengganggu keseimbangan rasa pada orang yang mengalaminya, sampai pada suatu waktu rasa kemakmuran itu meningkat lebih tinggi pula. Sebaliknya apabila keadaan material atau sosial tadi kurng dari pada yang di inginkannya maka perasaan orang yang mengalaminya dapat diliputi oleh kekecewaan sampai ia berhasil mencapai keseimbangan lagi antara keinginan dan keadaan yang nyata di sekitarnya. Oleh karena itu setiap orang mencari keseimbangan antara keinginan dan keadaan materi atau sosial, untuk mencapai keseimbangan itu berbagai cara dapat dilakukannya, ada yang menggunakan daya dan tipu daya, saling bersaing, saling bertengkar, makan memakan antara seorang dengan yang lainnya di dalam suatu lingkungan.
Untuk memulihkan kembali perasaan makmr pada seseoarng dapat diatasi melalui dua cara yaitu :
1. keadaan materi atau sosial ditingkatkan sesuai dengan keinginan-keinginan
2. keinginan-keinginan diturunkan sesuai dengan keadaan materi atau sosial yang dimiliki
Kalau kita bandingkan kedua pandangan diatas yang pertama bersifat eksak, kalau tidak dinamakan absolut, pandangan kedua lebih bersifat relatif sebab adanya faktor-faktor keinginan yang pada pokoknya berdasarkan perasaan, pandangan keuda ahirnya berubah pula sebagai akibat perkembangan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses moderenisasi yang menuntut berfikir secara eksak dan rasional.
Seseorang untuk memperoleh kemakmuran hidupnya di dalam keluarga umumnya setiap orang akan bekerja dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya, persaingan-persaingan akan selalu terjadi faktor penyebabnya bukan karena persoalan keterbatasan lapangan kerja saja, tetapi masalahnya sangat komplek. Individu sendiri telah ditakdirkan mempunyai watak bersaing antara sesama manusia untuk menguasai sumber-sumber daya alam dan kekuasaan yang pada gilirannya untuk memperoleh kemakmuran buat dia sendiri dan keluarganya. Persaingan antara sesame manusia dalam usaha memperoleh sumber daya alam dan dana adala suatu yang wajar terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Persaingan pada galibnya justru sebagai alat penggerak manusia dadri keadaan yang apatis tanpa gairah, namun demikian persaingan suatu saat bisa berubah menjadi konflik sebab kepentingan meraka bertabrakan. Sebaliknya justru tanpa persaingan, bekerja dengan sungguh-sungguh maka kemakmuran tidak bisa dicapai padahal setiap orang mengharapkan diri dan keluarganya memperoleh kemakmuran dapat mencapai jumlah dan nilai barang yang berlebihan untuk dimiliki dan di nikmati, minimal adanya keseimbangan antara kebutuhan hidup dengan materi atau sosial yang dimiliki.
Di samping itu tingkat kemakmuran suatu keluarga atau masyarakat ditentukan oleh standar nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu. Demikian pula tingkat kemakmuran banyak dipengaruhi oleh keadaan faktor-faktor demogratis seperti fertilitas, moralitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.